Saturday, February 26, 2011

MUTASI DAN HIKMAHNYA

Ada banyak kisah terutama dari mereka yang pernah berhasil mengatasi masa-masa sulit dalam kehidupannya. Salah satunya adalah kisah manis dari seorang guru yang dimutasi secara mendadak.

Sekitar bulan Februari 2011, pada usia lima belas tahun masa kerjanya sebagai guru, ia dimutasi ke tempat jauh secara sepihak. Setelah hampir delapan tahun melaksanakan tugas sebagai guru di sekolah ini, dan bergaul dengan teman-temannya sesama guru, termasuk murid-muridnya yang sangat mengidolakannya. Sekarang, ia harus meninggalkan sekolah, dan orang-orang yang menyayanginya, meskipun dengan berat hati. Walaupun demikian, ia tetap bersyukur. Karena masih bisa mengatakan, “wah, saya sekarang sudah menjadi guru yang benar-benar dibutuhkan di tempat lain!”

Ia tidak mengharapkan siapapun mengalami hal ini. Dimutasi secara sepihak dan sangat mendadak. Dan ini juga berarti ia harus memboyong pasangan dan putra-putrinya pindah dari rumah dinas yang ia tempati selama ini. Entah dengan jalan membeli rumah atau terpaksa mengontrak. Yang jelas, ia tidak akan pernah melupakan apa yang telah ia alami saat ini. Rasa resah, gelisah, galau, sakit hati maupun emosional, akhirnya mengajarinya untuk betul-betul menjalani kehidupan ini dengan gairah. Suatu cobaan ternyata menghasilkan ketekunan, karakter dan juga pengharapan.

Waktu itu ia sedang berkumpul sambil bercengkrama dengan teman-temannya di ruang guru. Telepon dari dinas, meminta agar ia segera menghadap pimpinan untuk urusan dinas. Hal itu menimbulkan pertanyaan banyak orang. Mengapa ia dipanggil ke dinas? Apakah karena gajinya yang minus? Atau ada salah yang lain pada dirinya? Ia sendiri tidak tahu, mengapa ia dipanggil kepala dinas. Hanya waktu itu tidak ada yang lebih menyesakkan dadanya, daripada mendengar kabar bahwa ia dimutasi.

Teman-teman yang empati dan prihatin terhadap keadaannya, berusaha untuk menghibur agar ia tidak terlalu larut dalam kesedihan. Menurut mereka, Tuhan memberikan cobaan ini, agar ia lebih tabah dan mau bersabar.

Saat ini meskipun ia telah dialih tugaskan ke sekolah inklusi, ternyata ia bisa berbuat lebih banyak daripada yang pernah dilakukannya selama ini. Ia bisa belajar bersabar dengan mendidik dan mengajar murid-murid yang termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Dan sekarang ia malah suka mengajar dan memberikan motivasi pada orang lain untuk sealu bersabar dan tabah menghadapi cobaan. Walaupun ia punya target tertentu sebagai seorang pendidik, setelah ia dimutasikan, ia belajar untuk tidak terlalu serius menghadapi segala sesuatu. Karena ternyata hidup ini hanya sementara. Jadi mumpung masih memilikinya ia akan bersenang-senang dengannya.

Friday, February 25, 2011

TIPS TETAP MESRA BERSAMA PASANGAN

1. Sempatkan untuk bisa makan bersama.
Acara makan bersama ini bisa juga menjadi media saling tukar pikiran dan saling mencurahkan isi hati dengan pasangan. Mungkin kemarin-kemarin belum sempat mengutarakannya, maka sekaranglah saatnya.
2. Perbaiki penampilan.
Sewaktu baru menikah dulu, berbagai perawatan kita jalani. Coba ingat sendiri, kapan terakhir kita mengubah gaya rambut, kapan terakhir kali anda mengisi lemari dengan pakaian baru, atau sekedar relaksasi di kantor.
3. Jangan lupa bercinta
Di fase bulan madu kegiatan bercinta seakan tidak pernah cukup. Nah, cobalah hidupkan kembali hasrat dan keinginan anda dengan pasangan yang menggebu. Kegiatan bercinta yang lancar akan membuat emosi jadi terkendali. Bercinta juga bisa membuat tingkat stres berkurang serta menjadikan rasa bahagia bagi yang melakukannya. Ini akan menarik perhatian dari pasangan dan sekaligus juga dapat menghidupkan kesan bulan madu yang bisa anda lakukan bukan hanya sekali seumur hidup, tapi bisa berbulan madu setiap harinya.
4. Hindari adu argumen karena masalah keuangan.
Masalah keuangan ini seringkali menjadi menyebab pertengkaran pada pasangan muda. Tapi, kalau kita bisa menyikapinya dengan baik, maka hal itu akan menjadi sesuatu yang indah sekali. Jangan jadikan adu argumen karena masalah keuangan ini menjadi kebiasaan, sehingga menimbulkan perasaan yang kurang mengenakkan dengan pasangan kita. Dan ingat, pada masa bulan madu dulu, keuangan tak pernah jadi masalah, karena kita bisa menyikapinya dengan tenang dan kepala dingin. Nah, saat masalah itu datang, kita bisa lakukan hal yang sama mulai dari sekarang. Jangan biarkan masalah keuangan itu merusak kebahagiaan kita.
5. Jadilah mudah memaafkan.
Dalam masa bulan madu, masalah yang ada sangat ringan buat kita. Kalau misalnya pasangan berbuat kesalahan, kita tidak menganggapnya secara serius, dan akan mudah sekali untuk memaafkan. Nah, cobalah kita melakukan hal yaag sama sekarang. Kalau ada kesalahan sedikit saja dari pasangan kita, janganlah kita menganggapnya sedemikian rupa sehingga akhirnya, kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan pasangan kita ini, menjadi kesalahan yang besar. Janganlah sampai suatu masalah kecil membuat perpecahan dalam rumah tangga kita sendiri. (Semoga bermanfaat)

CINTA SEJATI

Beruntunglah kita, karena ternyata cinta sejati itu memang ada. Kata orang cinta hanya sebatas lima puluh empat persen, dan empat puluh enam persen sisanya adalah perasaan mendua. Perlu diteliti lagi, sebagai pembanding. Terlepas dari hasil penelitian itu, beruntunglah yang masih memiliki cinta sejati. Karena sedikit saja orang yang memiliki cinta sejati. Jadi berbahagialah yang sudah merasakannya.

Bagiku cinta sejati berarti mensupport pasangan dalam meraih impian. Cinta sejati berani bertanya daripada menarik kesimpulan sendiri. Dan cinta sejati tidak memilih bertengkar untuk menyelesaikan masalah. Cinta sejati juga membuat pasangan tetap bersama meskipun sakit hati. Begitulah komitmen saya bersama pasanganku yang kucintai sepenuh hati.

Thursday, February 24, 2011

CITA-CITA WARISAN

CITA-CITA WARISAN

Ini kisah tentang dua keluarga. Dua-duanya miskin, dua-duanya sedang sakit keras. Dua-duanya hampir meninggal dunia. Keluarga pertama, anaknya datang kepada bapaknya, “Pak, sebelum bapak ada apa-apa, maaf ya pak ya!” Saya mau bertanya, “Rumah kita kecil sekali pak, sebenarnya apa sih, cita-cita bapak?” Bapaknya mengambil nafas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, lalu berkata kepada anaknya. “Nak, bapak bercita-cita punya rumah besar sekali, di belakang rumah ada kolam besar sekali, di puncak ada villa besar sekali, sebab bapak punya usaha besar sekali.” Lalu anaknya berkata, “Pak, tapi rumah kita kecil!” Yah nak, namanya juga cita-cita, belum tercapai nak. Tapi, bapak hidup hemat untuk menyekolahkan kamu. Supaya kamu bisa menyelesaikan cita-cita bapak. Setelah berkata seperti itu, bapaknya meninggal dunia.

Keluarga yang kedua, keadaannya juga miskin, rumahnya hampir roboh, bapaknya sakit keras. Anaknya datang kepada bapaknya, “Pak, sebelum bapak ada apa-apa, saya mau tanya, maaf pak ya!” Rumah kita kecil sekali pak, bapak sebenarnya cita-citanya, apa sih? Dengan mata yang menerawang, bapaknya mengambil nafas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, lalu menjawab anaknya. “Nak, bapak tidak punya cita-cita.” Jawabnya, lalu meninggal dunia.

Nah, sama-sama meninggal dunia, keluarganya sama-sama miskin. Satu punya cita-cita, dan yang lainnya tidak punya cita-cita. Yang punya cita-cita, sebelum meninggal, dia bercerita tentang cita-citanya. Dia hidup sederhana untuk menyekolahkan anaknya. Supaya anaknya meneruskan cita-cita orang tuanya.

Sambil mengingat-ingat, anaknya menguburkan bapaknya. “Benar juga, ya! Bapak hidup sederhana sekali. Saya Masih ingat bagaimana bapak membuang celana kolornya, diambil lagi, ditambal, dipakai lagi. Ia hidup begitu sederhana, supaya bisa menyekolahkan saya. Begitu anaknya berpikir. Maka si anak berjuang menyelesaikan kuliahnya, dan hidup dengan baik.

Apa yang mau saya katakan dengan kisah ini? Bahwa memilki cita-cita yang besar, tidak tercapai tidak rugi. Karena kita bisa wariskan pada anak-anak kita. Sama-sama meninggal, sama-sama mengakhiri hidup. Bahkan mungkin sama-sama meninggal dalam keadaan miskin. Tapi yang satu miskin tanpa bisa mewariskan apa-apa. Sudah niskin tidak punya cita-cita lagi. Karena itu, milikilah cita-cita yang besar, rencana besar, pikiran besar. Karena hasil besar hanya muncul dari pikiran besar. Perbuatan besar hanya muncul dari rencana besar. Mulailah dengan rencana dan cita-cita yang besar. Mengebu-gebu di situ, kalau tidak tercapai kita wariskan kepada anak-anak kita.

Wednesday, February 9, 2011

TEMAN BICARA YANG BAIK

TEMAN BICARA YANG BAIK

Sebagai orang tua, kalau kita melihat, mengerti, dan mengetahui bahwa nilai anak kita jelek, mengapa anak-anak menjadi ketakutan? Mengapa suami menjadi takut untuk bercerita kepada istri? Lalu mereka berbohong, mereka menjadi tidak jujur. Mengapa anak-anak tidak jujur menceritakan nilainya kepada orang tuanya? Itu semua karena marah yang berlebihan.

Istri harusnya penolong bagi suami. Bukan penggonggong, bukan perongrong. Orang tua harusnya menjadi tempat mengadu bagi anak-anak. Ketika anak merasa gelisah karena nilainya jelek, dia pulang ke rumah dan bercerita kepada kita orang tuanya. Saatnya orang tua memberikan tempat perlindungan, memotivasi mereka dengan kata-kata dorongan.

Orang tua perlu menilai dengan objektif, apakah anaknya sudah berusaha sungguh-sungguh? Yang penting lihtlah usahanya! Kalau memang dia belum sungguh-sungguh. Maka dorong dia, temani dia belajar untuk berusaha dengan sungguh-sungguh. Seandainya dia sudah belajar dengan sungguh-sungguh, tetapi hasilnya memang belum maksimal, maka orang tua harus mengutamakan untuk melihat proses, memuji karakter, dan baru kemudian prestasi.

Ketika orang tua marahnya wajar-wajar saja, tidak berlebihan, saya yakin anak tidak akan takut untuk jujur. Ketika istri bisa memahami kesalahan suami, bisa memahami kegagalan dan kerugian suami, bahkan memberikan kata-kata dorongan, kata-kata yang membuat suami merasa diterima, maka ia akan merasa bahwa rumah merupakan tempat untuk pulang.

Apabila suami merasa bahwa istri adalah teman bicara, teman hidup yang baik, maka dia akan berani bahkan senang bercerita dan berbicara dengan istri. Tetapi jika pasangan bukan merupakan teman bicara yang baik, maka dia akan menjadi pendiam, bebicara pendek-pendek. Suatu ketika kalau pasangannya bertanya, “Bagaimana keadaan di kantor?” Baik dan titik. Dia lebih senang berbicara dengan teman di kantor. Atau ngobrol sampai malam di cafe dan pulang hanya tinggal tidur. Suami-istri tidak berbicara lagi, karena pasangan bukan merupakan teman berbicara yang baik.

Karena itu mari kita belajar bijaksana dengan menjadi teman bicara yang baik. Jadilah teman bicara bagi pasangan, Teman bicara bagi anak-anak. Ketika kita mendengar sesuatu yang tidak enak, mendengar sesuatu yang tidak baik, tetapi mereka berani menyampaikannya dengan jujur, mari kita hargai kejujuran itu dengan tanggapan yang objektif, agar pasangan kita, anak-anak kita tetap terus berani terbuka.

Marilah kita bangun hubungan dengan selalu bercerita kalau ada apa-apa. Karena kalau suami tidak bercerita kepada istri, istri tidak bercerita kepada suami, anak-anak tidak bercerita kepada orang tua, maka tidak lama lagi, bersiap-siaplah menghadapi kejutan-kejutan yang betul-betul mengagetkan kita. Tiba-tiba pasangan selingkuh, tiba-tiba anak hamil di luar nikah, tiba-tiba anak terlibat narkoba. Mengapa teresa tiba-tiba? Karena putus komunikasi. Mengapa putus komunikasi? Karena selama ini mungkin kita bukan teman bicara yang baik, bukan pendengar yang baik. Karena itu, mari menjadi orang bijaksana dengan belajar menjadi teman bicara yang baik. Tanggapilah sesuatu secara objektif, supaya pasangan dan anak-anak kita berani berbicara dengan kita. Jangan sampai anggota keluarga kita takut kepada kita. Tetapi biarlah mereka tetap hormat kepada kita. Kalau kita menjadi pendengar yang baik dan perespon yang bijaksana, maka kita akan mendapat hormat dan kasih sayang.

Tuesday, October 13, 2009

HASIL KARYA SASTRA

SI ANAK TOMBOI

Satu bulan sebelum ulang tahun Misdah yang ke 13, orang tuanya berbicara pada Misdah dan kakak laki-lakinya. Pembicaraan itu tentang betapa mereka menyayangi Misdah dan saudaranya, tapi tidak saling mencintai. Dan tentang betapa jauh lebih bahagianya semua orang jika mereka berpisah. Tapi orang tua Misdah mengubah akhir pembicaraan itu dengan berkata, “Menurut kami, jalan yang terbaik untuk kalian berdua adalah tinggal dengan ayah kalian.” Ibunya yang berkata begitu, sambil membelai-belai rambut Misdah dengan jarinya yang berkuku merah.

Setelah kejadian itu, perut Misdah seolah berat sekali, seperti sebutir batu tajam yang menggelinding kesana kemari. Hidup dengan ayahnya dan kakak laki-lakinya, dalam dunia maskulin mereka, yang berisi celana pendek, dan pertandingan kasti tidak mudah. Ketika tiba waktunya Misdah meninggalkan peran tomboinya, berhenti mengenakan levi’s kusam dan kemeja kakaknya, dan mulai menjadi seorang wanita muda, Misdah malah beteriak-teriak, menyoraki pembasket di telivisi dan mengunyah permen karet. Semua teman Misdah memperhatikan ibu mereka mengenakan eyeliner dan perona pipi dan berlatih mengenakan mike up ketika ibu mereka pergi. Satu-satunya mike up yang Misdah tahu adalah coretan hitam di bawah mata pemain ketoprak humor di telivisi.

Tumbuh tanpa ibunya Misdah harus selalu membawa dirinya sendiri ke jenjang kehidupan atau tertinggal jauh di belakang. Misdah mengenakan baju seperti yang dipakai teman-temannya. Membeli sendiri bra pertamanya dan mulai mencukur bulu kakinya ketika teman-temannya melakukan hal itu. Misdah merasa tertatih-tatih mengikuti mereka dari belakang. Dirinya sadar, kalau status tidak beribunya terlihat jelas. Ketika mendapat haid pertamanya, Misdah mendekam di pojok kamar mandinya yang berwarna pink, merasa seperti anak kecil ketika melihat kemunculan ciri wanita dewasa. Yang membuat Misdah justru ingin mati ketika dia harus berkata, “Yah, aku dapat haid!” Ibunya seolah seperti kerabat jauh yang hanya bisa ditemui beberapa kali seminggu atau saat mengirim kartu ulang tahun jika dia ingat. Kata ibu asing buat Misdah. “Kenapa ibu tidak menginginkanku?” Misdah bertanya-tanya.

Guru dan orang tua temannya selalu memperlihatkan mimik kasihan ketika ayahnya menjemput dari pesta sendirian, menghadiri pertunjukan drama atau saat hadir dalam pertemuan orang tua di sekolah. Sering karena benci dikasihani, Misdah mengisi beberapa menit waktu luang saat berada di sisi ibunya dengan khayalannya. Kemudian sambil iseng, Misdah membicarakannya saat makan siang atau di rumah temannya. Biarlah mereka tidak tahu kalau yang Misdah miliki cuma seorang ibu khayalan yang cuma menyentuh hidupnya dalam bayangan.

Meski pada awalnya sulit, ayah Misdah berusaha semampunya mengisi kekosongan yang ditinggalkan ibunya. Ayahnya mendahulukan Misdah daripada kakaknya. Kadang mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi anaknya. Meski kehilangan istri dan pernikahannya, dia selalu tersenyum. Ayah yang membawa Misdah dan kakaknya ke dokter, mendengarkan masalah mereka, dan membantu mengerjakan PR. Ayah juga siap dengan jajanan, ketika teman-teman Misdah menginap, dan siap menceritakan lelucon konyol yang menjadi ciri khasnya. Ayah selalu menonton pertunjukan dan pertandingan volleyball di sekolah Misdah. Kebanyakan ayah tidak pernah meninggalkan pekerjaan mereka untuk menghadiri bahkan salah satu dari semua kegiatan itu. Tapi ayah Misdah menghadiri semuanya. Yang terpenting ayah selalu menyadari kekecewaan Misdah dan mencoba memperbaiki situasi yang buruk.

Setelah beberapa lama, semua orang yang tadinya mengasihani Misdah melihat perhatian besar ayahnya pada kesejahteraan Misdah. Mereka menyadari bahwa meskipun Misdah berbeda dengan yang lain, namun tidak ada yang salah dengan diri atau hidupnya. Lama kelamaan Misdah terbiasa dengan keadaan ini. Dan meski dia tidak pernah berhenti berharap, ibunya menjadi bagian yang lebih penting dalam hidupnya. Misdah menerima kenyataan kalau bukan itu yang terjadi. Ibunya cuma bagian dari dirinya.

Selama beberapa tahun terakhir Misdah menjadi lebih dekat dengan ibunya. Misdah menerima ibunya apa adanya. Meskipun ia tidak selalu menjadi ibu yang Misdah inginkan. Misdah kini sadar tidak apa-apa kalau dia tidak punya keluarga ideal seperti dalam cerita. Lengkap dengan ayah, ibu dan dua anak. Siapa bilang, kalau itu adalah definisi sebuah keluarga? Rumah Misdah memang unik, tapi di dalamnya, juga ada cinta dan kesetiaan, yang sama seperti dalam keluarga-keluarga lainnya.


SEKIAN

Saturday, September 19, 2009


Cerita ini fiktif belaka, jika ada kesamaan nama, tempat dan waktu hanya suatu kebetulan saja.
PUTRA DAERAH
Konon di sebelah ujung timur pulau Madura, tepatnya di Kota Sumenep ada sebuah desa yang sangat megah dan indah. Pagarbatu nama desa itu. Kehidupan rakyat desa Pagarbatu sangat makmur dan sejahtera, karena dipimpin oleh seorang Kepala desa yang arif dan bijaksana.
Kepala desa yang memerintah desa Pagarbatu mempunyai seorang putri yang sangat cantik yang bernama Hasiyah. Sejak menginjak masa remaja Hasiyah sering dilamar oleh para Walikota dari berbagai kota, karena kecantikannya. Namun diantara lamaran-lamaran tersebut tak satupun yang diterimanya.
Pada suatu malam Hasiyah bertemu dan bercinta dengan seorang pemuda yang gagah perkasa, Hasbalah namanya. Hasil dari hubungan tersebut ternyata Hasiyah menjadi hamil. Karena takut aib itu diketahui orang, maka Hasiyah bermaksud mencari Pemuda yang bernama Hasbalah tersebut.
Dalam pengembaraannya mencari Hasbalah, Hasiyah bertemu dengan seorang yang sedang sembahyang di sebuah mushollah. Orang itu ternyata kakak dari Hasbalah, Hasbulah namanya. Setelah lama bercerita tentang hal ihwal kehamilannya, maka Hasiyah diajak Hasbulah Menemui Hasbalah, adiknya. “Kanda juga sering teringat dirimu, hai dinda!” kata Hasbalah setelah bertemu dengan Hasiyah. “Lalu bagaimana nasib dinda setelah kejadian ini, kandaku?”. “Kalau begitu dinda tunggulah kanda di desa, kanda setiap malam akan ke sana. Dan apabila anak kita sudah lahir, maka titipkan ia ke orang di desa sebelah!” kata Hasbalah menasehati Hasiyah. Baiklah kanda, kalau begitu sebaiknya dinda kembali ke desa sekarang.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, maka lahirlah seorang anak laki-laki yang molek dari kandungan Hasiyah. Karena malu aib ini diketahui ayahandanya beserta orang-orang di Desa, maka malam itu juga Hasiyah keluar membawa anaknya. Karena takut keburu diketahui orang, maka anak tersebut ditinggal saja di tengah hutan oleh Hasiyah.
Sementara itu, di Desa sebelah, hiduplah seorang Peternak kambing yang bernama Ki Ambani. Setiap hari Ki Ambani mengumbar kambingnya untuk mencari makan sendiri di tengah hutan. Namun ada yang aneh dalam pikirannya. Karena di antara kambing-kambing miliknya itu, ada satu kambing betina yang sering pulang terlambat dan badannya semakin hari semakin kurus saja.
Karena penasaran dengan hal itu, maka diam-diam Ki Ambani membuntuti kambing yang bernama Karasak itu. Ternyata kambing tersebut pergi menemui seorang bayi yang ada di hutan itu. Saat ditemukan oleh Ki Ambani, Kambing Karasak sedang menyusui bayi itu. Maka dengan hati senang Ki Ambani membawa bayi itu pulang ke rumahnya. Kemudian oleh Ki Ambani bayi itu diberi nama Kafilah.
Setelah menginjak remaja Kafilah, minta ijin kepada kakeknya Ki Ambani untuk mengembara mencari pengalaman hidup. Di tengah pengembaraannya ia bertemu dengan seorang Kyai yang sedang bersembahyang di dalam mushollah. Seorang Kyai itu tidak lain adalah pamannya yaitu Hasbulah. Dari Hasbulah, Kafilah baru tahu bahwa ia adalah seorang cucu kepala desa Pagarbatu. Oleh karena itu Kafilah bermaksud menemui ayahandanya dan kemudian pulang ke desa menemui ibundanya.
Setelah sampai di desa Pagarbatu, ternyata Pagarbatu sedang diserang oleh musuh yang sangat sakti dari Tolanga yang bernama Kamsur. Ia menyerang Pagarbatu karena lamarannya ditolak oleh Hasiyah. Kamsur menyerang Pagarbatu dengan memakai ilmu hitam. Dalam peperangan itu gugurlah seorang teman karib Kafilah yang bernama Sudungan dan dimakamkan di suatu tempat. Tempat itu sampai sekarang diberi nama Balandungan yaitu suatu tumpukan batu yang berada di sebelah selatan Desa Pagarbatu.
Karena Pagarbatu hampir kalah dalam peperangan, maka sebagai seorang cucu kepala desa Pagarbatu, Kafilah turun tangan, membantu para prajurit yang sedang menghadapi musuh. Dengan bantuan Kafilah pihak Pagarbatu menjadi kuat, dan pertempuran bertambah sengit. Kafilah menghadapi Kamsur yang mengendarai naga terbang di udara. Dalam menghadapi orang sakti dari Tolanga itu, Kafilah bersenjatakan Clurit emas. Dalam satu kali tebasan, maka hancurlah Kamsur bersama naga saktinya. Semua prajurit kamsur tewas terkena tebasan clurit emas Kafilah. Salah seorang teman karib Kamsur yang bernama Rangrang ditemukan tewas di suatu tempat, dan tempat itu sampai sekarang dinamakan Rangkarang. Rangkarang diambil dari nama rangrang yaitu kegiatan penduduk desa Pagarbatu mencari kepiting di pantai.
Setelah kemenangan itu, maka mulailah kemasyhuran nama seorang putra desa yaitu Kafilah. Dan Desa Pagarbatu kembali menjadi Desa yang aman, makmur dan sentosa lagi.
Sementara itu yang terjadi di Kota Malang sebagai kota tempat tinggal paman Kafilah yaitu Hasbulah dirundung derita. Banyak gedung bangunan sekolah dan perguruan tinggi di Kota Malang rusak karena usianya yang sudah tua dan terkena gempa bumi. Walikota bermaksud membangun kembali gedung bangunan sekolah dan perguruan tinggi tersebut seperti sedia kala, megah seperti saat di bangun pertama kali oleh para insinyur Kota Malang.
Para insinyur dan tenaga ahli lainnya dikumpulkan untuk membangun kota pendidikan tersebut, mereka bekerja siang malam secara bergiliran. Sehingga boleh dikata pekerjaan membangun Kota Malang itu tanpa henti, terus-menerus.
Namun sungguh aneh, setiap kali gapura gedung sekolah itu selesai dikerjakan dengan sempurna yang sudah kelihatan indah dan megah itu tiba-tiba roboh berantakan.
Kejadian ini berulang-ulang hingga tiga kali. Lalu salah seorang tukang dari tim pembuat gapura itu berdoa mohon petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa, ia adalah seorang Kyai sakti dari Sumenep yang tidak lain adalah Ki Ambani kakek Kafilah yang merawatnya sejak kecil. Setelah beberapa malam sholat hajat ia mendapat bisikan gaib bahwa yang bisa menegakkan gapura gedung sekolah Kota Malang adalah cucunya sendiri yang berada di Sumenep, Madura yaitu Kafilah.
Atas persetujuan Walikota Malang, Kafilah dipanggil ke kota Malang. Pemuda sederhana namun bertubuh tegap dan tampan ini langsung menyembah hormat saat tiba di hadapan Walikota Malang."Benarkah kau sanggup menegakkan gapura gedung sekolah yang sedang kami bangun?” tanya walikota.
"Saya akan berusaha sesuai dengan kemampuan yang ada Tuanku."
"Kafilah...!"
"Ya tuanku..." sahut Kafilah penuh takzim.
"Ketahuilah, para insinyur dan tenaga ahli sudah mengerahkan segenap kemampuan untuk membangun kembali gapura itu. Jika kau tak sanggup membantu mereka menegakkan gapura gedung sekolah itu, maka kau dan kakekmu beserta semua tukang yang terlibat pembangunan gapura akan mendapat hukuman berat."
"Ya tuanku ..."
"Tapi jika kau berhasil membantu mereka maka kau akan mendapat hadiah dariku."
Siang itu juga Kafilah membantu para tukang untuk menegakkan gapura gedung sekolah. Kafilah ternyata sangat ahli di bidangnya. la mula-mula menganjurkan pondamen gapura diganti dengan batu-batu yang lebih besar dan kuat. Lalu ia sendiri meramu bahan perekat yang unik untuk menyusun batu-batu di atas pondamen itu. Kafilah bekerja keras siang dan malam. Sehingga menurut cerita dari mulut ke mulut disebutkan bahwa Kafilah dikubur di dalam tanah seperti orang meninggal lalu tanah yang menutupi tubuh Kafilah berubah menjadi cairan perekat (semacam semen). Dan tetes keringat di sekujur tubuhnya menjadi perekat yang ampuh untuk menegakkan gapura gedung sekolah Kota Malang.
Akhirnya dengan bantuan Kafilah para tukang dapat membangun dan menegakkan kembali gapura gedung sekolah Kota Malang. Tentu saja walikota sangat gembira melihat kenyataan ini.
Sejak saat itu Kafilah diangkat menjadi salah seorang perwira utama di Kota Malang. Sebab selain ahli bangunan ternyata Kafilah juga mempunyai ketrampilan olah keprajuritan. Bahkan mempunyai siasat perang yang tangguh. Oleh karena itu, jika ada hal-hal yang sulit diatasi para senopati dan panglima perang Kota Malang, Kafilah disuruh mengatasinya. Jika ada pemberontakan yang bertujuan merongrong wilayah kekuasaan Malang, Kafilah diperintahkan walikota memimpin pasukan untuk memadamkan pemberontakan itu.
Kafilah ternyata seorang prajurit yang tangkas dan cekatan dalam memimpin pasukan. Setiap pemberontakan terhadap Kota Malang selalu berhasil ia padamkan dengan tidak terlalu banyak memakan korban. Tidak aneh kalau Walikota sangat sayang kepadanya. la sering mendapat hadiah dari walikota. Karena Walikota sangat sayang kepada Kafilah, ada beberapa orang yang merasa iri hati kepadanya. Mereka yang merasa tidak senang itu menyebarkan isu bahkan fitnah bahwa kesetiaan Kafilah kepada Walikota hanya setengah-setengah. Kafilah berjuang bukan untuk kejayaan Kota Malang, tetapi sekadar mendapatkan hadiah dari walikota.
Fitnah dan desas-desus itu akhirnya sampai ke telinga Walikota. Walikota sebenarnya ragu akan kebenaran berita itu. Walikota pun memutuskan untuk menguji kesetiaan Kafilah.
Walikota memanggil Kafilah. Setelah Kafilah menghadap, Walikota mulai berbicara, "Kafilah, aku mempunyai seorang putri bernama Hania. Maukah engkau seandainya ia kujodohkan denganmu?"
"Saya siap untuk dijodohkan dengan putri tuan", jawab Kafilah dengan suara tegas.
'Tetapi, apakah engkau tidak akan menyesal di kemudian hari?" tanya Walikota.
"Mengapa saya harus menyesal?" tanya Kafilah. "Ketahuilah,"kata Walikota menjelaskan, "putriku ini buta. Apakah engkau tetap mau mengawininya?"
"Saya tetap bersedia," jawab Kafilah dengan suara mantap. Walikota tersenyum gembira mendengar jawaban Kafilah yang meyakinkan itu. Hati Walikota semakin mantap bahwa Kafilah memang seorang satria yang sangat setia kepadanya. Isu dan fitnah itu hanyalah bohong belaka.
Beberapa hari kemudian, pesta pernikahan Kafilah dengan Hania dirayakan di Balai Kota Malang. Ada bermacam-macam komentar atas pernikahan itu. Orang-orang yang tidak senang kepada Kafilah menganggap pengantin yang sedang bersanding merupakan lelucon yang tidak lucu. Karena mempelai pria gagah seperti Arjuna, sedangkan mempelai wanita kedua matanya buta. Pihak yang senang kepada Kafilah merasa tidak puas karena Kafilah yang besar jasanya kepada Kota Malang dinikahkan dengan putri yang buta. Menurut mereka, Kafilah sepantasnya dijodohkan dengan putri Walikota yang pal­ing cantik.
Setelah upacara dan pesta pernikahan itu selesai, Kafilah dan istrinya minta izin kepada Walikota untuk pulang ke Pagarbatu Sumenep. Walikota mengizinkan mereka.
Dengan diiringi beberapa prajurit dan para pembantu wanita dari Hania, Kafilah berangkat ke arah timur meninggalkan pusat pemerintahan Kota Malang yang indah permai. Meskipun Hania buta, Kafilah tetap menunjukkan rasa sayang kepada istrinya itu. Dalam perjalanan, ia selalu membelikan buah-buahan yang disukai Hania. Hania tidak menyangka Kafilah akan mencintainya sedemikian rupa.
Setelah sampai di pelabuhan Ujung Surabaya, Kafilah dan istrinya beristirahat beberapa hari di bandar yang ramai disinggahi perahu-perahu dari berbagai negeri. Kemudian, mereka menyeberang laut menuju Kamal ujung barat Pulau Madura. Setelah naik ke darat, Hania ingin mandi. Kafilah bingung karena di sekitar tempat itu tidak ada sumur atau sungai. Lalu, ia mengambil tongkat Hania dan melemparkannya ke dalam sebuah dam yang airnya keruh. Setelah tongkat itu diangkat, berubahlah air dam tadi menjadi jernih. Maka langsung Hania mandi dengan air jernih itu.
"Kanda Kafilah," teriak Hania dengan gembira, "Sungguh ajaib! Saya sekarang bisa melihat." Benarkah , Dinda? tanya Kafilah hampir tidak percaya.
"Betul," jawab Hania, "untuk apa saya berdusta. Lihatlah kedua mata saya. Saya sekarang sudah bisa memandang wajah Kanda."
Kafilah pun mernperhatikan mata istrinya. Tampak mata Hania sudah terbuka dengan biji mata seindah bintang kejora. Hati Kafilah sangat gembira. Mereka bersyukur atas karunia Tuhan yang tidak disangka-sangka ini.
Setelah puas mandi, Hania pun berganti pakaian. Kini, ia bisa memilih sendiri pakaiannya karena kedua belah matanya dapat melihat dengan sempurna.
Air dam yang telah menjadi jernih itu akhirnya menjadi sumber air yang sangat besar. Tempat itu sampai sekarang disebut Dam-daman. Hal ini untuk mengingat kejadian ajaib di mana sepasang mata Hania yang tadinya buta bisa melihat karena air yang dam yang tadinya keruh itu menjadi jernih.
Dalam perjalanan selanjutnya, Hania tidak perlu ditandu. Selain sudah bisa melihat, badannya terasa sehat sekali. Mereka terus berjalan ke arah timur.
Berhari-hari lamanya mereka berjalan melewati dataran rendah yang luas dan naik turun perbukitan. Mereka tidak susah mencari makanan karena daerah yang mereka lalui itu banyak terdapat toko dan warung menjual makanan dan minuman.
Ketika tiba di sebuah tempat, Hania ingin berganti pakaian lagi. Sebelum berganti pakaian, Hania mau mengambil sarungnya untuk menutupi tubuhnya agar tidak terlihat orang lain sewaktu mengganti pakaiannya. Hania terkejut karena sarungnya jatuh dan dihanyutkan air yang sangat deras alirannya. Ia segera memberi tahu suaminya.
Tanpa pikir panjang, Kafilah pun mengejar sarung istrinya yang hanyut oleh air. Setelah tiba di dekat sarung itu, Kafilah cepat memungut dan mengembalikannya kepada Hania. “Inilah sarungnya, Dinda!” Kata Kafilah. “Enggi Kanda”, jawab Hania.
Sumber besar yang terletak di sebelah utara Desa Pagarbatu itu sampai sekarang disebut Saronggi. Kata Saronggi berasal dari kata Sarong dan Enggi, bahasa Madura, Sarong artinya sarung dan enggi artinya iya.
Setelah beberapa hari mereka berjalan menelusuri hutan belantara di pulau Madura, dan ketika tiba di suatu tempat Hania ingin cuci muka karena ingin memakai bedak palengkeran khas Madura. Ternyata persediaan air sudah habis. Maka, pada seorang penduduk di Desa itu Kafilah bermaksud minta air sekedar untuk dijadikan campuran bedak istrinya. Namun tidak satupun penduduk di sana yang mau memberikan air sedikitpun kepada Kafilah. Karena saking mangkelnya, Kafilah menegadahkan tangannya seperti orang sedang berdoa sambil berteriak-teriak, talang… talang, memanggil talang yang dapat menampung air. Sampai saat ini, tempat itu dikenal dengan Desa talang, yang diambil dari kata terikan Kafilah.
Perjalanan Kafilah dan Hania pun diteruskan menuju ke timur. Sampai di suatu tempat, Kafilah dan Hania menemukan sumber air yang jernih. Sumber air itu sangat besar dan jernih. Akan tetapi Kafilah dan Hania heran, banyak sumber air di situ, mengapa tak satu pun penduduk desa itu mau memberikannya pada Kafilah yang memintanya. Hal itulah yang membuat Kafilah menjadi marah. Oleh karena itu, tempat sumber air tersebut dinamakan Mara’an. Diambil dari kata marahan yang dilakukan Kafilah.
Setelah sampai di Pagarbatu, Kafilah disambut dengan gembira oleh ayah bundanya serta masyarakat Pagarbatu. Apalagi Kafilah membawa pulang seorang istri yang cantik jelita. Ibunda Kafilah Hasiyah sangat senang pada Hania. Selain cantik dan berkulit kuning langsat, istri Kafilah itu sangat pintar memasak. Setiap hari Hania membantu kesibukan Hasiyah di rumah. Itulah yang membuat Hasiyah sangat menyayangi Hania.
Kakek Kafilah dari pihak ibu bernama Hamsita adalah seorang Kepala Kelurahan yang memerintah Kelurahan Tlogomas. Pemerintahannya berada di bawah naungan wilayah Kota Malang. Setelah Hamsita memasuki usia tua, ada sekawanan bajak laut dari luar kota yang mengganggu wilayah perairan Malang. Lagi-lagi Kafilah mendapat tugas mengamankan wilayah tersebut. Dalam pertempuran yang sengit dengan bekal senjata clurit emas dari kakeknya akhirnya Kafilah dapat mengusir kawanan bajak laut tersebut. Walikota Malang ikut gembira mendengar keberhasilannya ini.
Atas jasanya ini Kafilah pun dinobatkan menjadi Pak Lurah yang memerintah wilayah Kelurahan Tlogomas. Menggantikan kakeknya yang sudah berusia lanjut. Selain itu, Walikota Malang juga mengirim Kafilah ke Kota Yogyakarta untuk menambah ilmu kedigdayaannya agar ketahanan Kota Malang menjadi lebih kuat.
Di bawah kepemimpinan Kafilah, masyarakat Tlogomas benar-benar mengalami jaman kemakmuran dan keadilan, karena pemimpinnya memang seorang gagah berani yang sabar, jujur dan adil.
BERSAMBUNG